Banten

Bikin Heboh! Greenpeace Bentangkan Spanduk di Patung Selamat Datang, Pesannya Menohok Prabowo-Gibran

Abdurahman | 20 Oktober 2026, 17:48 WIB
Bikin Heboh! Greenpeace Bentangkan Spanduk di Patung Selamat Datang, Pesannya Menohok Prabowo-Gibran
SPANDUK PROTES-Aktivis Greenpeace Indonesia bentangkan spanduk protes di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026) pagi.(Dok. @Greenpeace Indonesia)PANDUK PROTES-Aktivis Greenpeace Indonesia bentangkan spanduk protes di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026) pagi.(Dok. @Greenpeace Indonesia)PANDUK PROTES-Aktivis Greenpeace Indonesia bentangkan spanduk protes di atas Patung Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026) pagi.(Dok. @Greenpeace Indonesia)

AKURAT BANTEN – Aksi Greenpeace Indonesia di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), menjadi sorotan.

Para aktivis membentangkan spanduk berukuran besar yang menyuarakan kritik mengenai krisis iklim, bencana ekologis, dan biaya hidup masyarakat.

Pesan yang dibawa bukan sekadar seruan untuk menjaga lingkungan. Greenpeace juga menyoroti dampak kerusakan alam terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari ancaman kesehatan hingga tekanan ekonomi yang dirasakan warga.

Momentum aksi ini turut menarik perhatian karena berlangsung saat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki dua tahun masa pemerintahan.

Dua spanduk berlatar kuning dibentangkan di monumen ikonik Jakarta tersebut. Salah satunya bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”.

Sementara spanduk lainnya menyampaikan pesan yang lebih keras: “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”

Kalimat terakhir itu menjadi sorotan karena secara langsung mempertanyakan upaya pemerintah dalam menghadapi persoalan lingkungan dan dampaknya terhadap masyarakat.

Aksi tersebut sekaligus mengangkat pertanyaan penting: sejauh mana kebijakan penanganan krisis iklim mampu melindungi kehidupan masyarakat dari ancaman bencana dan tekanan ekonomi?

Baca Juga: Bikin Merinding! Ayah Hilang Sejak 4 Bulan Lalu, Pengakuan Anak Kandung di Brebes Ungkap Dugaan Mutilasi

Spanduk Menohok di Bundaran HI, Apa Pesan Greenpeace?

Pemilihan Monumen Selamat Datang sebagai lokasi aksi membuat pesan Greenpeace tampil mencolok di salah satu kawasan paling dikenal di Jakarta.

Bundaran HI merupakan kawasan strategis yang setiap hari dilintasi masyarakat dari berbagai latar belakang. Membentangkan spanduk di lokasi ini menjadi cara untuk menarik perhatian publik terhadap persoalan yang dinilai mendesak.

Greenpeace menempatkan krisis iklim sebagai persoalan yang tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat.

Bencana ekologis bukan hanya berkaitan dengan kerusakan hutan atau perubahan kondisi alam. Dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor kehidupan, termasuk kesehatan, pekerjaan, aktivitas ekonomi, dan ketahanan pangan.

Ketika kebakaran hutan dan lahan menimbulkan kabut asap, misalnya, masyarakat berisiko menghadapi gangguan kesehatan. Aktivitas sehari-hari juga dapat terganggu, terutama bagi warga yang harus bekerja di luar ruangan.

Di sisi lain, bencana yang merusak permukiman, lahan pertanian, atau infrastruktur dapat menambah beban ekonomi masyarakat yang terdampak.

Inilah hubungan antara dua pesan utama dalam spanduk Greenpeace: penanganan krisis iklim dan penurunan biaya hidup.

Ketika bencana ekologis semakin mengancam, yang dipertaruhkan bukan hanya kelestarian alam, melainkan juga keselamatan, pekerjaan, dan masa depan masyarakat. Karena itu, penanganan krisis iklim harus terasa nyata dalam kehidupan rakyat.

Pesan tersebut merangkum persoalan utama yang diangkat dalam aksi Greenpeace: perlindungan lingkungan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Manchester City dalam Bahaya! Pengurangan Poin Fantastis Bisa Seret Haaland dkk ke Championship

Bencana Ekologis dan Biaya Hidup Jadi Perhatian

Kritik Greenpeace juga menyoroti dampak bencana ekologis yang bisa dirasakan jauh melampaui wilayah tempat bencana terjadi.

Kebakaran hutan dan lahan, pencemaran udara, serta cuaca ekstrem merupakan persoalan yang membutuhkan penanganan serius. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan masyarakat, produktivitas pekerja, hingga kegiatan ekonomi.

Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, gangguan kesehatan atau kehilangan penghasilan akibat bencana dapat menjadi beban tambahan.

Begitu pula ketika produksi dan distribusi pangan terganggu. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut berpotensi memengaruhi harga kebutuhan pokok dan memperberat pengeluaran rumah tangga.

Meski demikian, hubungan antara bencana dan kenaikan biaya hidup perlu dilihat berdasarkan kondisi serta data masing-masing kasus. Tidak setiap kenaikan harga atau tekanan ekonomi dapat langsung dikaitkan dengan perubahan iklim.

Namun, risiko yang ditimbulkan kerusakan lingkungan tetap menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memperkuat mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat.

Greenpeace mendesak agar persoalan tersebut tidak hanya mendapat perhatian ketika bencana sudah terjadi. Pencegahan, pengendalian kerusakan lingkungan, serta penanganan akar masalah juga perlu menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang.

Dengan demikian, penanganan krisis iklim bukan semata urusan lingkungan hidup, tetapi juga menyangkut kesiapan negara melindungi masyarakat.

Baca Juga: Prabowo Bikin Geger? Pengamat Soroti Pidato Spontan dan Komunikasi Menteri yang Tak Sinkron

Enam Aktivis Dievakuasi dari Monumen Selamat Datang

Di balik pesan yang disampaikan, aksi Greenpeace di Bundaran HI juga diwarnai proses evakuasi para aktivis.

Berdasarkan laporan mengenai peristiwa tersebut, enam aktivis Greenpeace Indonesia dievakuasi oleh petugas pada Selasa (20/10/2026). Mereka terdiri atas dua perempuan dan empat laki-laki.

Proses evakuasi melibatkan unsur kepolisian, TNI, serta petugas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ambulans juga disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan medis.

Salah seorang aktivis perempuan dilaporkan terlihat lemas saat turun dari monumen. Ia kemudian dibawa menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis di klinik Biddokkes Polda Metro Jaya.

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung menyampaikan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan memperhatikan keselamatan para aktivis.

Kepolisian juga berencana mendalami bagaimana para aktivis dapat mencapai bagian atas monumen, termasuk melalui pemeriksaan rekaman kamera pengawas atau CCTV.

Selain persoalan keselamatan, keberadaan Monumen Selamat Datang turut menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki nilai sejarah dan status perlindungan cagar budaya.

Polisi mengingatkan bahwa penyampaian pendapat di muka umum perlu memperhatikan keselamatan, ketertiban, serta perlindungan terhadap fasilitas dan objek bersejarah.

Peristiwa ini pun memperlihatkan dua sisi yang muncul bersamaan: pesan lingkungan yang ingin disampaikan para aktivis dan persoalan keselamatan yang harus ditangani petugas.

Baca Juga: Lionel Messi Bikin Rekor Gila di MLS! Cetak 2 Gol, Pelatih Inter Miami Sampai Menyebutnya Alien

Pramono Anung Hormati Aspirasi, Keselamatan Tetap Jadi Perhatian

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turut menanggapi aksi tersebut.

Pramono menyatakan menghormati aspirasi yang disampaikan Greenpeace sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, penyampaian pendapat tetap perlu memperhatikan keamanan dan ketertiban umum.

Ia berharap aksi dapat segera diselesaikan dan spanduk diturunkan agar tidak menimbulkan risiko bagi peserta maupun masyarakat di sekitar Bundaran HI.

Sikap tersebut memperlihatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan kewajiban memastikan keselamatan publik.

Aspirasi mengenai lingkungan tetap layak menjadi perhatian. Pada saat yang sama, cara penyampaian aspirasi juga harus mempertimbangkan risiko bagi peserta aksi dan kondisi kawasan tempat kegiatan berlangsung.

Dalam konteks ini, perhatian terhadap pesan Greenpeace tidak harus mengabaikan aspek keselamatan, begitu pula sebaliknya.

Baca Juga: Konflik Cristiano Ronaldo Belum Reda, Presiden Portugal Kirim Pesan Penting yang Bikin Fans Berharap!

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Tantangan Lingkungan Kembali Disorot

Momentum dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran membuat pesan Greenpeace memiliki dimensi politik yang lebih luas.

Melalui spanduk tersebut, Greenpeace menyampaikan kritik mengenai penanganan krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pesan itu juga menjadi pengingat bahwa kebijakan lingkungan perlu dinilai berdasarkan pelaksanaan dan hasilnya.

Pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian pencemaran, mitigasi bencana, serta perlindungan masyarakat terdampak merupakan sejumlah aspek yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.

Tantangan pemerintah bukan hanya merespons bencana setelah terjadi, melainkan juga mengurangi risiko agar dampaknya tidak terus berulang.

Di sisi lain, penilaian terhadap kinerja pemerintah perlu didasarkan pada kebijakan, data, dan hasil yang dapat diperiksa. Aksi Greenpeace merupakan bentuk kritik dan desakan dari organisasi lingkungan, bukan dengan sendirinya bukti bahwa seluruh persoalan yang disuarakan telah gagal ditangani.

Meski demikian, kritik tersebut membuka ruang bagi pertanyaan publik tentang prioritas kebijakan, efektivitas pencegahan bencana, dan perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang rentan.

Baca Juga: Bukan Cuma Harry Kane dan Salah, 9 Bintang Ini Juga Punya Rekor Langka di Kompetisi Eropa!

Pesan dari Bundaran HI Tak Berhenti pada Spanduk

Aksi Greenpeace di Monumen Selamat Datang memperlihatkan bagaimana isu lingkungan dapat menjadi bagian dari perdebatan mengenai kesejahteraan masyarakat.

Krisis iklim tidak selalu terasa dalam bentuk yang sama. Di satu tempat, dampaknya dapat berupa banjir atau cuaca ekstrem. Di tempat lain, masyarakat menghadapi ancaman kebakaran hutan, kabut asap, atau gangguan terhadap sumber penghidupan.

Karena itu, penanganannya membutuhkan langkah yang konsisten, mulai dari pencegahan, kesiapsiagaan, penegakan aturan lingkungan, hingga pemulihan setelah bencana.

Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan perlindungan yang tidak hanya hadir setelah kerusakan terjadi, tetapi juga mampu mengurangi risiko sejak awal.

Spanduk Greenpeace di Bundaran HI mungkin akan diturunkan, tetapi persoalan yang diangkatnya tidak selesai hanya dengan berakhirnya aksi.

Pertanyaan paling penting tetap sama: bagaimana memastikan penanganan krisis iklim benar-benar melindungi lingkungan sekaligus meringankan beban masyarakat?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan bergantung pada kebijakan, pelaksanaan, dan hasil nyata yang dapat dirasakan publik.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman